INTERNATIONAL
CLASSIFICATION OF DISEASES AND HEALTH RELATED PROBLEMS 10TH REVISION
(ICD-10, WHO)
Pemahaman akan tujuan dan struktur ICD-10 revisi 2
(International Classification of Diseases and Related Health Problems, 10th
Revision, 2nd edition) penting sekali bagi pengguna statistik dan analis
informasi kesehatan di samping untuk para pengkode. Pemakaian ICD yang akurat
dan konsisten tergantung pada penggunaan ketiga volumenya secara benar. Secara
umum, Volume 1 berisi klasifikasi penyakit menurut jenisnya, Volume 2 tentang
cara penggunaan ICD, dan Volume 3 berisi penyakit berdasarkan susunan abjad.
A. PROSEDUR Pengkodean
Indeks
alfabet berisi berbagai nama yang tidak ada pada Volume 1, dan pengkodean
memerlukan rujukan ke kedua volume tersebut sebelum kode dapat diberikan.
Sebelum pengkodean dilakukan, pengkode perlu mengetahui prinsip-prinsip
klasifikasi dan pengkodean, dan telah melakukan latihan-latihan praktek.
Berikut
ini adalah pedoman sederhana yang dimaksudkan untuk membantu pengkode ICD yang
bekerja sesekali:
1. Tentukan jenis pernyataan yang akan dikode dan rujuk ke Section yang
sesuai pada Indeks Alfabet. (Kalau pernyataan adalah penyakit, cedera, atau
kondisi lain yang bisa diklasifikasikan pada bab I-XIX atau XXI, lihat Section
I dari Index. Kalau pernyataan ini adalah penyebab luar dari cedera atau
kejadian lain yang bisa diklasifikasikan pada bab XX, lihat Section II pada
Index).
2. Tentukan lokasi ‘lead term,’. Untuk penyakit dan cedera ini biasanya
berupa sebuah kata benda untuk kondisi patologis. Namun, beberapa kondisi yang berupa
kata sifat atau eponim (nama orang) bisa juga terdapat disini.
3.
Baca
dan pedomani semua catatan yangterdapat di bawah ‘lead term’.
4.
Baca
semua nama yang dikurung oleh parentheses setelah ‘lead term’ (modifier ini
tidak mempengaruhi nomor kode), di samping semua nama yang ber-indentasi di
bawah ‘lead term’ (modifier ini bisa mempengaruhi nomor kode), sampai semua
kata di dalam diagnosis telah diperhatikan.
5. Ikuti dengan hati-hati setiap rujukan silang ‘see’ dan ‘see also’ di
dalam Indeks.
6.
Rujuk
daftar tabulasi (Volume I) untuk memastikan nomor kode yang dipilih. Perhatikan
bahwa sebuah kode 3-karakter di dalam Indeks dengan dash (-) pada posisi ke-4
berarti bahwa sebuah karakter ke-4 terdapat pada Volume 1. Subdivisi lebih
lanjut yang digunakan pada posisi karakter tambahan tidak diindeks, kalau ini
digunakan, ia harus dicari pada volume 1.
7.
Pedomani
setiap nama inklusi dan eksklusi di bawah kode yang dipilih, atau di bawah
judul bab, blok, atau kategori.
Tentukan
kode.
A. Cara Menggunakan Volume 1
Volume 1 berisi klasifikasi dengan kategori
diagnosis, yang memudahkan pencarian dan penghitungan statistik. Pada setiap
bab terdapat blok-blok, setiap blok berisi kategori penyakit, yang selanjutnya
berisi subkategori penyakit atau masalah eksehatan. Kategori terdiri dari satu
huruf dan dua angka, dan subkategori berisi angka ketiga yang dipisahkan oleh
tanda titik Definisi isi rubriki, yaitu kategori 3-karakter dan subkategori 4-karakter, tersusun dalam tabel-tabel
statistik..
Walaupun
secara teoritis seorang pengkode bisa menemukan kode yang tepat dengan
menggunakan Volume 1 saja, namun ini akan menyita banyak waktu dan bisa
menyebabkan kesalahan pemberian kode. Untuk mengatasi hal ini, sebuah Indeks Alfabet
sebagai pedoman klasifikasi disediakan pada Volume 3.
1. Penggunaan daftar tabel inklusi dan subkategori
4-karakter
a. Inclusion
terms (Nama-nama inklusi)
Di dalam rubrik 3- dan 4-karakter bisa terdapat
sejumlah diagnosis di samping diagnosis utama. Mereka dikenal sebagai
‘inclusion terms’ (nama penyakit yang dilibatkan), yaitu contoh-contoh
diagnosis yang diklasifikasikan pada rubrik tersebut. Nama ini bisa menunjukkan
sinonim dari nama utama, atau merupakan kondisi yang berbeda, walau pun ia bukan
subklasifikasi dari rubrik tersebut.
Nama-nama inklusi terutama ditujukan sebagai
pedoman isi rubrik. Banyak di antara nama yang tertulis disitu berhubungan dengan
nama penting, nama yang umumnya diketahui, dan kondisi perbatasan (borderline) untuk memperjelas
batas antar subkategori. Daftar yang ada di dalam nama-nama inklusi tidak memuat
semua nama yang berhubungan. Nama alternatif dari diagnosis bisa diperleh pada Indeks
Alfabet, yang harus dirujuk pada awal proses pengkodean.
Kadang-kadang nama-nama inklusi perlu dibaca bersama
dengan judulnya. Misalnya kalau nama-nama inklusi berisi daftar rumit mengenai
situs penyakit atau produk farmasi.
Disini kata-kata yang sesuai dari judul (misalnya: ‘neoplasma ganas dari ........’,
‘cedera terhadap ........’, ‘keracunan oleh ........’) perlu dipahami.
Uraian diagnostik umum yang berlaku untuk kategori-kategori
di dalam blok, atau semua subkategori yang berada di dalam kategori, terdapat
di dalam catatan berjudul “Includes” yang langsung mengikuti judul suatu bab,
blok, atau kategori.
b. Exclusion
terms (nama-nama eksklusi)
Rubrik
tertentu berisi daftar kondisi yang didahului oleh kata-kata “Excludes” atau ‘kecuali’. Semua kondisi klasifikasinya berada
di tempat lain, namun namanya memberi kesan bahwa mereka diklasifikasikan di
rubrik tersebut. Contohnya kategori “A46 – Erysipelas”, mengecualikan
erysipelas pasca melahirkan atau nifas. Segera setelah nama yang dikecualikan terdapat
kode kategori atau subkategori di dalam tanda kurung yang menunjukkan tempat
klasifikasinya di dalam ICD.
Pengecualian umum untuk kelompok yang ada di dalam
bab, blok, kategori atau subkategori terdapat pada catatan berjudul ‘Excludes’ yang
mengikuti judulnya.
c. Uraian
takarir
Sebagai
tambahan pada nama-nama inklusi dan eksklusi, bab V (Kelainan mental dan
tingkah laku) menggunakan takarir (glossary) untuk menjelaskan isi rubrik.
Takarir digunakan karena terminologi penyakit jiwa sangat bervariasi antara
berbagai negara, dan nama yang sama bisa saja menunjukkan kondisi yang agak
berbeda. Takarir ini tidak dimaksudkan untuk digunakan oleh staf pengkode.
Takarir juga terdapat pada bagian lain ICD untuk menjelaskan isi rubrik yang
dimaksudkan, misalnya pada bab XXI.
2. Dua kode untuk kondisi tertentu
a. Sistem
‘dagger’ dan ‘asterisk’
Sistem
dua kode pada ICD-10, yaitu kode diagnosis penyakit umum sebagai masalah dasar,
dan kode manifestasinya pada organ atau situs tertentu sebagai masalah terpisah
diperkenalkan pada ICD-9. Kode
utama untuk penyakit dasar ditandai oleh dagger (†); dan kode tambahan untuk manifestasinya ditandai
dengan asterisk (*). Kesepakatan
ini dilakukan karena kode penyakit dasar saja sering tidak memuaskan dalam
pengolahan statistik penyakit tertentu, sementara manifestasinya perlu
diklasifikasikan pada bab yang relevan karena merupakan alasan pasien untuk mencari
asuhan medis.
Walaupun
sistem dagger dan asterisk memberikan klasifikasi alternatif untuk presentasi
statistik, ICD berprinsip bahwa dagger adalah kode utama yang harus selalu
digunakan, dan asterisk sebagai kode tambahan kalau presentasi alternatif
diperlukan. Untuk pengkodean, asterisk tidak boleh digunakan sendirian.
Statistik yang menggunakan kode dagger dianggap sesuai dengan klasifikasi
tradisional untuk presentasi data mortalitas dan morbiditas serta aspek lain
asuhan kesehatan.
Kode asterisk muncul sebagai kategori
tiga-karakter. Terdapat kategori yang berbeda untuk kondisi yang sama ketika
penyakit tertentu tidak dinyatakan sebagai penyebab dasar. Misalnya kategori
G20 dan G21 adalah untuk Parkinsonisme yang bukan manifestasi penyakit lain,
dan G22* adalah Parkinsonisme yang terjadi pada, atau merupakan manifestasi
dari, penyakit lain. Kode dagger untuk kondisi yang disebutkan pada kategori
asterisk diberikan pada akhir nama kondisi; misalnya, ‘G22* Parkinsonisme pada
penyakit sifilis (A52.1†).’
Beberapa kode dagger berada dalam kategori tersendiri.
Namun lebih sering kode dagger untuk diagnosis yang memiliki dua elemen, dan kode
tanpa tanda dagger untuk kondisi elemen tunggal, berasal dari kategori atau
subkategori yang sama. Klasifikasi sistem dagger dan asterisk ini tidak banyak,
yaitu 83 kategori asterisk yang terdapat pada awal bab yang relevan.
Rubrik-rubrik berisi tanda dagger bisa memiliki
satu di antara tiga bentuk berikut ini:
i. Kalau dagger dan asterisk muncul pada judul
rubrik, semua nama pada rubrik tersebut memiliki klasifikasi kembar dengan kode
alternatif yang sama, misalnya:
A17.0† Tuberculous
meningitis (G01 *)
Tuberculosis of meninges (cerebral)(spinal)
Tuberculous leptomeningitis
ii. Kalau dagger muncul tapi asterisk tidak muncul
pada judul rubrik, maka semua nama memiliki klasifikasi kembar dengan kode
alternatif berbeda. Kode alternatif disediakan untuk setiap nama, misalnya:
A18.1† Tuberculosis
of genitourinary system
• male
genital organs (N51.- *)
Tuberculous female pelvic inflammatory disease
(N74.1 *)
iii. Kalau dagger dan asterisk tidak ada pada
judul, maka secara umum rubrik tidak harus memiliki kode alternatif. Nama inklusi tertentu bisa memiliki kode
alternatif, disini nama tersebut akan bertanda dagger dan diikuti dengan kode
alternatif, misalnya:
A54.8 Other
gonococcal infection
• peritonitis † (K67.1 *)
b. Pengkodean
kembar pilihan lainnya
Terdapat
situasi lain yang memungkinkan dua kode dipakai untuk menjelaskan kondisi
seseorang. Catatan pada daftar tabulasi, “Use additional code, if desired,” menunjukkan
situasi ini. Kode-kode tambahan ini hanya digunakan pada tabulasi-tabulasi
khusus:
i. Untuk infeksi lokal yang terdapat pada
bab-bab sistem tubuh, kalau penyebab infeksi tidak muncul pada judul rubrik
maka kode dari bab I bisa ditambahkan untuk identifikasi informasi ini. Blok kategori B95-B97 disediakan untuk ini
pada bab I.
ii. Untuk
neoplasma yang memiliki aktifitas fungsional, kode dari bab II bisa ditambah
dengan kode yang sesuai dari bab IV (hormon dan metabolik) untuk menunjukkan
aktifitas fungsionalnya.
iii. Untuk
neoplasma, kode morfologi pada Volume 1 halaman 1138-1159, walaupun bukan
bagian ICD utama, bisa ditambahkan untuk identifikasi jenis morfologis tumor
tersebut.
iv. Untuk
kondisi yang bisa diklasifikasikan pada F00-F09 (kelainan jiwa organik) pada bab
V, kode dari bab lain bisa ditambahkan untuk menunjukkan penyebab, misalnya
penyakit yang mendasari, cedera, atau gangguan lain terhadap otak.
v. Kalau
suatu kondisi disebabkan oleh zat yang bersifat toksik, kode dari bab XX bisa
ditambahkan untuk identifikasi zat tersebut.
vi. Dua
kode bisa digunakan untuk menguraikan cedera, keracunan atau efek lain dari
penyebab eksternal. Kode dari bab XIX menjelaskan bentuk cedera, dan kode dari bab
XX menjelaskan penyebabnya. Pemilihan kode utama dan kode tambahan tergantung
pada tujuan pengumpulan data.
3. Konvensi yang digunakan pada daftar tabel
Dalam daftar nama inklusi dan eksklusi pada daftar
tabulasi, ICD menggunakan konvensi khusus yang berhubungan dengan penggunaan
tanda kurung (), kurung petak [], titik dua, kurung kurawal {}, singkatan
“NOS”, istilah “not elsewhere classified (NEC)”, dan kata “and” pada judulnya. Semua ini perlu dipahami dengan jelas oleh pengkode dan semua orang yang
ingin memahami statistik yang didasarkan pada ICD.
a. Parenthesis
()
Parenthesis digunakan pada Volume 1 dalam empat
situasi penting:
i. Tanda kurung digunakan untuk
kata-kata tambahan, yang bisa mengikuti nama diagnosis tanpa mempengaruhi kode nama
di luar tanda kurung. Misalnya pada I10, nama inklusi “Hypertension (arterial)
(benign) (essential) (malignant) (primary) (systemic)” berarti bahwa I10 adalah
nomor kode nama “Hypertension” baik sendirian atau pun bersamaan dengan
berbagai kombinasi kata-kata yang berada di dalam tanda kurung.
ii. Tanda kurung juga digunakan
untuk kode tempat rujukan nama eksklusi, misalnya:
H01.0, Blepharitis, excludes blepharoconjunctivitis (H10.5).
iii. Penggunaan lain tanda kurung
adalah pada judul blok, untuk kode rentang kategori yang termasuk pada blok
tersebut.
iv. Tanda kurung juga digunakan
untuk mengurung kode dagger di dalam kategori asterisk atau kode asterisk yang
mengikuti nama dagger.
b. Square
brackets []
Tanda ini digunakan untuk:
i. mengurung sinonim, kata-kata
alternatif atau penjelasan; misalnya
A30 Leprosy [Hansen’s disease];
ii. merujuk pada catatan
sebelumnya; misalnya
C00.8 Overlapping
lesion of the lip [See note 5 on p.182];
iii. rujukan ke subdivisi empat-karakter yang
telah disebutkan sebelumnya; misalnya:
K27 Peptic ulcer,
site unspecified [See page 566 for subdivisions].
c. Colon (:)
Titik
dua digunakan dalam urutan nama inklusi dan eksklusi di saat kata-kata yang
mendahuluinya bukan merupakan nama lengkap. Mereka memerlukan kata tambahan
yang diurutkan di bawahnya. Misalnya, pada K36, “Other appendicitis”, diagnosis
‘appendicitis’ hanya diklasifikasikan disana kalau ia dilengkapi oleh kata
‘chronic’ atau ‘recurrent’.
d. Brace
(kurawal) }
Brace
dipakai pada daftar inklusi dan eksklusi untuk menunjukkan bahwa kata-kata yang
mendahului atau mengikutinya bukan nama yang lengkap. Setiap nama sebelum
kurawal harus dilengkapkan oleh nama yang mengikutinya. Misalnya:
O71.6 Obstetric damage to
pelvic joints and ligaments
Avulsion of inner
symphyseal cartilage
Damage to coccy
Traumatic separation
of symphysis (pubis)
e. “NOS”
Kata
NOS merupakan singkatan dari “not otherwise specified”, yang memberikan kesan arti
“tidak dijelaskan” atau “tidak memenuhi syarat”.
Kadang-kadang
suatu nama yang tidak jelas tetap diklasifikasikan ke dalam rubrik yang berisi jenis
kondisi yang lebih spesifik. Ini dilakukan karena bentuk yang paling sering
terjadi pada suatu kondisi bisa lebih dikenal dengan nama kondisi itu sendiri,
sedangkan yang memenuhi syarat justru jenis yang kurang umum. Misalnya ‘mitral
stenosis’ (nama kondisi) biasanya dimaksudkan untuk ‘rheumatic mitral stenosis’
(bentuk yang paling umum).
Asumsi
yang telah tertanam ini harus dipertimbangkan untuk mencegah kesalahan
klasifikasi. Pengamatan terhadap “nama inklusi” akan menunjukkan apakah asumsi penyebab
telah dibuat. Pengkode jangan mengkode diagnosis sebagai “tidak dijelaskan”,
kecuali kalau jelas tidak tersedia informasi yang memungkinkan klasifikasinya diletakkan
di tempat lain. Begitu pula, beberapa kondisi yang dimasukkan ke dalam kategori
yang jelas, bisa saja tidak memiliki penjelasan pada rekam medisnya.
Pada
saat membandingkan tren penyakit menurut waktu dan menafsirkan hasil statistik,
perlu disadari bahwa asumsi-asumsi bisa berubah dari satu revisi ICD ke revisi
lain. Misalnya, sebelum revisi ke-8, “aneurisma aorta yang tidak jelas” diasumsikan
sebagai akibat dari sifilis.
f. “Not elsewhere classified”
Kata-kata
ini yang berarti ‘tidak diklasifikasikan di tempat lain’, kalau digunakan pada
judul dengan tiga-karakter, berfungsi sebagai peringatan bahwa variasi tertentu
dari kondisi ini bisa muncul di bagian lain dari klasifikasi. Misalnya:
J16 ‘Pneumonia akibat organisme menular lain,
not elsewhere classified’.
Kategori
ini mencakup J16.0 ‘Pneumonia akibat Chlamydia’ dan J16.8 ‘Pneumonia akibat
organisme menular lain yang dijelaskan’.
Banyak
kategori lain yang terdapat pada bab X (misalnya, J09-J15 “Influenza dan
pneumonia”) dan bab lain (misalnya, P23.- “Pneumonia kongenital”) untuk
pneumonia akibat organisme menular yang dijelaskan. J18 “Pneumonia, organisme tidak
dijelaskan”, digunakan untuk pneumonia yang penyebab infeksinya tidak
dinyatakan.
g. “And” pada judul
“Dan”
bisa berarti “dan/atau”. Misalnya pada rubrik A18.0, ‘Tuberculosis tulang dan
sendi’, diklasifikasikan ‘TB
tulang’, ‘TB sendi’, dan ‘TB tulang dan sendi’.
h. Point
dash .–
Pada beberapa kasus, karakter ke-4 pada
subkategori digantikan oleh ‘dash’ atau strip datar, misalnya:
G03 Meningitis
due to other and unspecified causes
Excludes: meningoencephalitis (G04.-)
Ini
menunjukkan bahwa ada karakter ke-4 yang harus dicari di dalam kategori yang
sesuai. Konvensi ini
digunakan pada daftar tabulasi dan pada indeks alfabet.
4. Kategori dengan ciri-ciri yang sama
Untuk kontrol mutu perlu ada cek terprogram di dalam
sistem komputer. Kelompok kategori berikut diberikan sebagai dasar untuk
pengecekan terhadap konsistensi internal, dikelompokkan menurut ciri-ciri
khusus yang menyatukannya.
a. Kategori
asterisk
Kategori
asterisk berikut tidak boleh dipakai tersendiri; mereka harus selalu digunakan
sebagai tambahan pada kode dagger:
D63* D77* E35* E90* F00* F02* G01* G02* G05* G07* G13*
G22* G26* G32* G46* G53* G55* G59* G63* G73* G94* G99*
H03* H06* H13* H19* H22* H28* H32* H36* H42* H45* H48*
H58* H62* H67* H75* H82* H94* I32* I39* I41* I43* I52* I68*
I79* I98* J17* J91* J99* K23* K67* K77* K87* K93* L14* L45*
L54* L62* L86* L99* M01* M03* M07* M09* M14*M36* M49*
M63* M68* M73* M82* M90* N08* N16* N22* N29*N33* N37*
b. Kategori
yang terbatas pada satu jenis kelamin
Kategori
berikut hanya terdapat untuk laki-laki:
B26.0 C60-C63 D07.4-D07.6 D17.6 D29.- D40.-
E29.- E89.5 F52.4 I86.1 L29.1 N40-
N51 Q53-Q55 R86 S31.2-S31.3 Z12.5
Kategori berikut hanya terdapat untuk
perempuan:
A34 B37.3 C51-C58 C79.6 D06.- D07.0-D07.3
D25-D28 D39.- E28.- E89.4 F52.5 F53.- I86.3
L29.2 L70.5 M80.0-M80.1 M81.0-M81.1 M83.0
N70-N98 N99.2-N99.3 O00-O99 P54.6 Q50-Q52 R87
S31.4 S37.4-S37.6 T19.2-T19.3 T83.3 Y76.- Z01.4
Z12.4 Z30.1 Z30.3 Z30.5 Z31.1 Z31.2
Z32-Z36 Z39 Z43.7 Z87.5 Z97.5
c. Kategori
sekuel
Kategori berikut disediakan untuk sekuel kondisi
yang tidak aktif lagi:
B90-B94 E64.- E68 G09 I69.- O97 T90-T98 Y85-Y89
d. Kelainan
pasca prosedur
Kategori
berikut tidak digunakan pada pencatatan penyebab dasar mortalitas.
E89.- G97.- H59.- H95 I97.- J95.- K91.- M96.- N99
A. Cara Menggunakan Volume 3
Bagian
‘Introduction’ pada Volume 3, indeks alfabet ICD-10 memberikan petunjuk cara
penggunaannya. Instruksi disitu harus dipelajari secara baik sebelum pengkodean
dilakukan. Berikut ini diberikan uraian singkat mengenai struktur dan
penggunaannya.
1. Penataan indeks alfabet
Volume
3 dibagi atas bagian-bagian sebagai berikut:
·
Section I, ‘Indeks alfabet
penyakit dan bentuk cedera’, berisi semua nama yang bisa diklasifikasikan pada
Chapters I-XIX (A00-T98) dan XXI (Z00-Z99), dengan pengecualian mengenai
obat-obatan dan zat kimiawi lain penyebab keracunan atau efek lain yang tidak
diinginkan.
·
Section
II, ‘Penyebab luar cedera’, berisi indeks penyebab mortalitas dan morbiditas
yang berasal dari luar. Nama yang ada disini bukanlah diagnosis medis akan
tetapi uraian kejadian kekerasan (misalnya kebakaran, ledakan, jatuh, serangan
badan, tabrakan, tenggelam). Disini termasuk semua nama pada bab XX (V01-Y98)
dengan pengecualian obat-obatan dan zat kimia.
·
Section III, ‘Tabel Obat dan
Zat Kimiawi’, berisi indeks obat dan zat kimia yang menyebabkan keracunan dan
efek lain yang tidak diinginkan. Untuk setiap zat, daftar ini memberikan kode
untuk keracunan atau efek samping obat yang ada pada bab XIX (T36-T65), dan
kode-kode bab XX yang menunjukkan apakah keracunan tidak disengaja (X40-X49), disengaja
(X60-X69), dan tidak jelas (Y10-Y19). Tabel ini juga memberikan kode efek samping penggunaan obat-obatan
(Y40-Y59).
2. Struktur
Indeks
ini berisi ‘lead terms’ yang diletakkan pada bagian paling kiri, dengan
kata-kata lain (‘modifier’ atau ‘qualifier’) pada berbagai level indentasi di
bawahnya. Pada Section I, modifier yang berindentasi (dimajukan ke kanan) ini
biasanya berupa jenis, tempat, atau kondisi yang mempengaruhi kode; pada
Section II mereka menunjukkan berbagai jenis kecelakaan atau kejadian,
kendaraan yang terlibat, dsb. Modifier yang tidak mempengaruhi kode berada di dalam tanda kurung setelah
kondisi yang tertulis.
3. Nomor-nomor kode
Nomor-nomor kode yang menyertai nama merujuk ke
kategori atau subkategori tempat nama tersebut diklasifikasikan. Kalau kode
tersebut hanya terdiri dari 3-karakter, bisa diperkirakan bahwa kategori
tersebut belum dibagi atas subkategori. Pada umumnya kode subkategori
4-karakter akan muncul kalau kategori telah dibagi. Sebuah ‘dash’ atau strip
pada posisi ke-4 (misalnya O03.-) menunjukkan bahwa kategori tersebut telah
dibagi namun angka ke-4 bisa ditemukan pada daftar tabulasi (Volume 1). Kalau
sistem dagger dan asterisk berlaku pada nama itu, maka kedua kode harus
digunakan.
4. Konvensi-konvensi
a. Parenthesis
Tanda
kurung digunakan seperti pada Volume 1, yaitu untuk mengurung modifer.
b. “NEC”
‘Not
elsewhere classified’ menunjukkan bahwa varian yang dijelaskan dari kondisi
yang tertulis diklasifikasikan pada bagian lain, dan bahwa nama yang lebih
tepat harus dicari di dalam Indeks
c. Cross-references
Rujukan-silang
digunakan untuk menghindarkan duplikasi yang tidak perlu pada nama di dalam
Indeks Alfabet. Kata ‘see’ meminta pengkode untuk merujuk ke nama lain; ‘see
also’ mengarahkan pengkode untuk merujuk ke tempat lain di dalam Indeks kalau
pernyataan yang sedang dikode berisi informasi lain yang tidak ter-indentasi di
bawah nama tempat ‘see also’ tersebut berada.(Pelatihan ICD-10 Edisi 2; Petunjuk dasar pengkodean Dr. Erkadius, M.Sc)